The Depth

Livorno Rumah Bagi (Pesepak bola) Komunis di Italia

Perdebatan mengenai bangkitnya komunisme di Indonesia sedang menjadi primadona di banyak media massa dan sosial media. Kata komunis yang tabu pada era orde baru itu kini menjadi buah bibir kembali dan digaung- gaungkan bangkit dari kubur. Banyak buku yang berkaitan dengan komunisme dirazia dan dibredel karena dianggap menjadi ancaman dan mengganggu stabilitas negara. 

Pada awalnya di abad ke 19, komunisme sendiri lahir sebagai sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme yang dianggap memerah dan menindas kaum buruh dan petani. Revolusi Bolshevik atau yang lebih dikenal dengan Revolusi Oktober dan Revolusi Proletar ini menjadi awal dari penyebaran ideologi komunisme ke seluruh penjuru dunia. Pada saat itu, kaum komunis dan buruh Rusia yang dipimpim oleh Lenin berhasil menggulingkan pemerintahan nasionalis di bawah pimpinan Alexander Kerensky. Indonesia sendiri lewat Partai Komunis Indonesia, pernah menjadi salah satu basis terbesar komunis di dunia. Namun semenjak orde baru berkuasa hingga saat ini, ideologi yang dikenalkan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels tersebut dilarang untuk disebarluaskan kepada masyarakat.

Runtuhnya Uni-Soviet dan kuatnya kepungan modal dari segala penjuru dunia, membuat komunisme menyerah dan membiarkan kapitalisme memenangkan pertaruangan ideologi yang berhasil mempolarisasi dunia ke dalam dua kutub. Begitu juga dalam dunia sepak bola. Pertempuran antara komunisme melawan liberalisme atau fasisme di lapangan hijau berhasil dimenangkan kapitalisme. 

Livorno Sebagai Benteng Terakhir Komunis di Jagat Sepak bola

Livorno adalah sebuah kota pelabuhan yang terletak di Pantai barat Italia. Di salah satu sudut kota tersebut berdiri sebuah stadion sepak bola yang diberi nama Armando Picchi. Stadion sepak bola yang menjadi representasi sekaligus benteng terakhir dari komunisme di Italia dan menjadi kandang sebuah klub sepak bola bernama A.S Livorno Calcio. 

Livorno dan komunisme sendiri mempunyai sejarah yang panjang, kota yang terletak di Provinsi Tuscan ini menjadi tempat berdirinya Partai Komunis Italia. Pada Perang Dunia II, Livorno menjadi salah satu kota dengan basis terbesar di Italia dalam melawan kaum fasis, yang menjadikan kota mereka sebagai simbol komunis di Italia. Tak heran hingga saat ini lebih dari 90 persen warga kota Livorno berhaluan kiri dalam hal politik.

A.S Livorno Calcio atau yang lebih kenal dengan sebutan Livorno dibentuk satu abad yang lalu pada tahun 1915. Seperti para suporter Liverpool di Anfield yang selalu menyanyikan lagu kebanggan mereka “You’ll never Walk Alone” sebelum pertandingan dimulai, para pendukung Livorno menjadikan lagu “Bella Ciao” sebagai lagu wajib mereka. Lagu Bella Ciao sendiri merupakan lagu yang identik dengan kelompok kiri di Italia. Maka jangan heran, lambang palu arit, bendera merah bintang, spanduk kemerdekaan Palestina serta gambar muka Che Guevara hingga Fidel Castro lazim anda lihat di sudut- sudut tribun Armando Picchi. 

Memilih sisi politik yang berada di haluan kiri membuat Livorno bersebrangan dengan klub ibu kota Lazio yang berada di sisi kanan. Kedekatan Lazio dengan pemimpin fasis Italia, Benito Mussolini membuat Brigade Autonome Livornese– ultras Livorno– sering terlibat bentrok dengan pendukung Lazio.

Sikap politik yang cenderung kiri yang menjadi bagian kota livorno merembet juga dalam pengambilan kebijakan klub dalam merekrut pemain. Aldo Spinelli yang saat itu menjabat Presiden klub, secara terang- terangan menolak Tomaso Rocchi meski Ia tertarik karena Rocchi adalah legenda Lazio.

Lucarelli, Komunisme dan Livorno

Sulit untuk memisahkan Cristiano Lucarelli dengan Livorno. Bagi Lucarelli, Livorno adalah belahan jiwanya. Di lengan kirinya terdapat tato logo Livorno. Lucarelli sendiri adalah ikon bagi Livorno. Bagi warga kota Livorno, Lucarelli adalah simbol atau perwujudan sempurna dari kota Livorno selain Livorno itu sendiri. Kecintaannya terhadap Livorno membuat ia membaptiskan diri menjadi bagian dari ultras Brigade Autonome Livornese dan menjadikan tahun kelahiran Brigade Autonome Livornese tahun 1999 menjadi nomor punggung yang kerap ia pakai.

Salah satu hal yang paling menarik dari Lucarelli adalah ia membeli sisa kontraknya sendiri di Torino agar ia dapat bermain kembali untuk klub kota kelahirannya tersebut.

Kisah unik Lucarelli sendiri dimulai saat ia membela timnas Italia U-21 berhadapan dengan Moldova pada tahun 1997. Dalam selebrasi golnya ke gawang Moldova, Lucarelli berlari ke arah pendukung Italia dan menunjukan kaos bergambar Che Guevara yang terpampang di kaos dalamnya.

Sejak saat itu Lucarelli identik dengan paham komunisme yang juga menjadi bagian kota dan klub Livorno. Secara terang- terangan Lucarelli mengakui bahwa dirinya adalah seorang komunis. Ia pun mendukung perjuangan kaum buruh serta bangsa- bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan mereka seperti Palestina, Catalan dan Basque. Di kota kelahirannya tersebut, ia juga mendirikan koran harian untuk menandingi satu- satunya koran yang ada di kota tersebut melakukan monopoli informasi.

Lucarelli adalah satu dari sedikit pesepakbola yang mengemukakan pandangan politiknya secara terbuka. Di kota kelahirannya tersebut, Lucarelli dan Livorno menjadi palang pintu komunisme di jagat sepak bola yang telah digerogoti oleh kapitalisme.

 

 

Related posts
The Depth

Penyebaran COVID-19 di Dunia

The Depth

Bisakah Kita Setia Pada Satu Pasangan?

The Depth

Apa Itu Feminisme? Perlukah Feminisme di Indonesia?

The Depth

Bagaimana Golput Bermula

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *