The Depth

Bagaimana Plastik Mendominasi Dunia dan Ikhtiar Manusia untuk Melawannya

Plastik dapat kita temukan dalam setiap produk yang kita beli. Kepraktisannya membuat kita sulit untuk berpaling dari produk polimerisasi sintetik dan semi-sintetik ini. Hampir setiap barang yang ada di rumah dan kantor kita menggunakan plastik.

Plastik pertama kali digunakan oleh Alexander Parkes di 1862 Great International Exhibition yang membuat gagang pisau, sisir dan kancing dari seslolusa yang merupakan bahan baku plastik modern. Parkes kemudia menjual hasil temuannya ke Hyatt bersaudara yang berhasil menambah kelenturan parkesin dengan menambahkan kamper dan menamainya seluloid pada 1870.

Pada tahun 1907, seorang ahli kimia Leo Hendrik Baekland berhasil menemukan plastik sintetis pertama di dunia. Baekland kemudian berhasil mengembangkan temuannya dan menemukan substansi baru yang dinamainya “Bakelite” yang mempunyai sifat sebagai isolator listrik. Hasil temuan Baekland ini banyak digunakan di alat- alat berteknologi tinggi seperti kamera dan telepon.

Penggunaan plastik secara masih baru dilakukan oleh masyarakat di seluruh dunia saat Perang Dunia ke II berkecamuk. Di masa perang tersebut plastik digunakan sebagai bahan pengganti kayu, kaca dan logam.

Selepas Perang Dunia k II, penggunaan plastik makin masif karena biaya produksinya yang cukup murah. Bahan plastik baru seperti polyurethane, poliester, silikon, polypropylene, dan polycarbonate terus dikembangkan dan diaplikasikan lebih luas.

Karena biaya produksi yang cukup murah dan mudah diaplikasikan ke banyak hal, penggunaan plastik terus dilakukan secara masif oleh masyarakat di seluruh dunia. Karena hal ini juga sampa plastik berhasil mendominasi dan mencemari lautan di planet Bumi.

Ikhtiar Melawan Sampah Plastik

Mendagri Tjahjo Kumolo baru saja mengeluarkan larangan mengenai penggunaan plastik untuk minuman dan makanan di wilayah kantor Kementrian Dalam Negeri. Tjahjo meminta setiap orang yang berada di jajarannya untuk mengurangi konsumsi air mineral kemasan plastik karena dapat merusak lingkungan.

Imbauan yang diberikan Tjahjo kepada jajarannya di wilayah Kementrian Dalam Negeri adalah ikhtiar manusia dalam mengurangi sampah plastik yang terus mencemari laut Indonesia.

Bukan hanya Tjahjo dan Kementrian Dalam Negeri, beberapa pemerintah daerah di Indonesia juga terus berupaya mengurangi penggunaan plastik dengan menerapkan peraturan perundangan- undangan yang membatasi penggunaan plastik.

Pemerintah Kota Bogor memberlakukan Peraturan Walikota (Perwali) Nomor 61 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Jumlah sampah di Kota Bogor yang setiap harinya mencapai 650 ton sampah per hari, di mana 5 persennya atau 32,5 ton dari jumlah keseluruhan merupakan sampah plastik.

Selain Pemkot Bogor, Pemerintah Provinsi Bali juga membuat kebijakan serupa dengan memberlakukan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Lewat peraturan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster melarang penggunaan plastik seperti kantong plastik, polysterina (styrofoam), dan sedotan plastik.

Selain Bali dan Bogor, pemerintah daerah lain juga ikut berbondong- bondong membatasi penggunaan plastik, seperti Balikpapan, DKI Jakarta dan Bandung.

Related posts
The Depth

Penyebaran COVID-19 di Dunia

The Depth

Bisakah Kita Setia Pada Satu Pasangan?

The Depth

Apa Itu Feminisme? Perlukah Feminisme di Indonesia?

The Depth

Bagaimana Golput Bermula

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *