Get Life

Indonesia Dalam Bayang- Bayang Gangguan Kesehatan Mental

depresi gangguan jiwa kesehatan mental selancar

Publikasi World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa saat ini sekitar 450 juta orang di dunia menderita gangguan mental, di mana sepertiga penderitanya tinggal di negara berkembang. Hasil laporan itu juga menyebutkan satu dari empat orang di dunia menderita gangguan mental dalam beberapa waktu tertentu dalam hidup mereka, dan sebanyak delapan dari sepuluh penderita tidak mendapatkan perawatan. Masih dari laporan WHO tersebut, 1 juta orang memutuskan bunuh diri karena menderita gangguan mental setiap tahunnya.

Depresi menjadi penyebab terbesar gangguan kesehatan mental secara global. WHO menyebutkan pada tahun 2012 lebih dari 350 juta orang mengalami depresi baik ringan maupun berat. Dalam beberapa kasus, depresi dapat berujung pada bunuh diri. Atas dasar ini pula presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim menyebutkan bahwa depresi bukan hanya menjadi masalah kesehatan mental tapi juga pembangunan. Banyaknya penderita depresi dapat berpengaruh pada produktifitas dan ekonomi global. Data dari World Health Report melaporkan depresi merupakan penyebab ke empat hilangnya waktu produktif tertinggi pada tahun 2000. Pada tahun 2020 diperkirakan depresi akan naik ke peringkat kedua sebagai penyebab hilangnya wkatu produktif.

Baca juga: 

Mahalnya biaya yang harus ditanggung oleh penderita, membuat WHO percaya bahwa kesehatan mental harus menjadi prioritas global. Selain mahalnya biaya yang harus ditanggung oleh penderita, kesehatan mental juga membunuh.

Di Indonesia sendiri, data dari Riskesdas pada tahun 2013 melaporkan prevalensi nasional penderita gangguan mental emosional sebesar 6 persen untuk usia 15 tahun ke atas. Dengan kata lain lebih dari 14 juta orang Indonesia terindikasi menderita gangguan mental emosional. Angka tersebut belum termausk jumlah prevalensi nasional penderita gangguan mental berat yang berada di angka 400 ribu jiwa.

Hal ini diperparah lagi, banyak dari penderita gangguan mental ini belum tertangani secara medis. Masih minimnya tenaga kesehatan jiwa, pelayanan dan fasilitas kesehatan mental di Indonesia, masih banyaknya stigma yang melekat pada penderita gangguan mental di Indonesiajuga ikut berpengaruh.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia baru memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 psikiater (0,32 per 100.000 penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100.000 penduduk). Angka ini jauh dari angka ideal yang ditetapkan oleh WHO sekitar 1:30 ribu orang, atau 0,03 per 100.000 penduduk.

Dalam hal fasilitas dan pelayanan, dari 34 provinsi di Indonesia, 8 di antaranya belum memiliki rumah sakit jiwa, bahkan tiga provinsi di antaranya tidak memiliki psikiater.

Hal ini dikeluhkan oleh Human Right Watch yang mengeluarkan laporan pada Maret lalu. Dalam laporan yang berjudul, “Hidup di Neraka: Kekerasan terhadap penyandang Disabilitas Psikososial di Indonesia”, selain masalah stigma, kekurang sigapan pemerintah dalam menyediakan fasilitas penanggulangan kesehatan mental menjadi salah satu faktor buruknya penangan kesehatan mental di Indonesia.

Selain buruknya fasilitas dan jumlah tenaga medis yang kurang mencukupi, stigma juga menjadi salah satu faktor buruknya penanganan masalah kesehatan mental di Indonesia.Mengambil data HWR dari hasil laporan yang, masih banyak warga Indonesia yang menganggap penderita gangguan jiwa disebabkan karena kurangnya iman, pendosa berat, kerasukan setan dan hal- hal yang berkaitan dengan perbuatan amoral. Hal ini yang mengakibatkan penderita gangguan jiwa tidak mendapat pelayanan yang seharusnya.

Pemasungan kerap dilakukan kepada mereka yang menderita gangguan jiwa. Meski pelarangan pemasungan terhadap penderita gangguan jiwa telah ada sejak tahun 1977, hasil laporan Tirto ada 18.800 kasus pemasungan yang terjadi di Indonesia. 

Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi Hak-hal Penyandang Disabilitas (CRPD) pada 2011. Yang di dalamnya terdapat ketentuan yang mewajibkan pemerintah Indonesia untuk menghargai dan menjamin hak setara bagi semua penyandang disabilitas dan bebas dari penyiksaan dan perlakuan buruk.

Related posts
Get Life

Tips Memilih Spek Laptop Untuk Bekerja

Get Life

Tips Memilih HP Infinix Sebelum Membeli

Get Life

Tips Sebelum Membeli Redmi 9T

Get LifeThe Hype

Perbandingan Realme C11 Dan Redmi 9

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *