News Flash

Benarkah Ganja Mampu Meningkatkan Potensi Ekonomi Suatu Negera?

Anggota Komisi VI DPR, Rafli, yang juga anggota PKS, mengusulkan ganja menjadi komoditas ekspor karena mempunyai potensi ekonomi yang cukup kuat. Ia yakin, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar akan ganja untuk kepentingan farmasi.

“Ganja entah itu untuk kebutuhan farmasi, untuk apa saja, jangan kaku, harus dinamis berpikirnya,” ujarnya di dalam rapat bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto membahas perjanjian dagang ASEAN dengan Jepang, Kamis (30/1).

Legalisasi ganja sebenarnya bukan barang yang baru. Di beberapa negara seperti, Jerman, Yunani, Kroasia, Finlandia, Turki, Republik Ceko, Swiss, Makedonia, dan Italia, ganja digunakan untuk kepentingan medis, dengan syarat dapat menunjukan resep dari dokter.

Legalisasi secara menyeluruh baru dilakukan di Uruguay, sebagian negara bagian di Amerika Serikat, Zimbabwe dan Lesotho. Di Lesotho, bahkan ganja mampu menopang perekonomian negara yang terletak di tengah- tengah Afrika Selatan.

Kanada yang baru saja melegalkan ganja pada tahun 2018 memperoyeksikan pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan dari legalisasi ganja dapat mencapai hingga US$1,1 miliar (Rp 16,7 triliun) dan menyediakan penerimaan pajak penghasilan sebesar US$400 juta bagi pemerintah.

Di Amerika Serikat, laporan lembaga riset Grandview, mencatat pasar ganja AS mencapai US$11,3 miliar pada 2018 dan akan terus meningkat setiap tahunnya.

Bahkan laporan lembaga riset ganja New Frontier Data melaporkan, pasar ganja di negeri Paman Sam akan menyentuh angka US$30 miliar atau sekitar Rp420 triliun pada 2025 dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) mencapai 14 persen.

Di Asia Tenggara, Thailand menjadi negara pertama di kawasan ini yang melegalkan ganja untuk keperluan medis dan tujuan penelitian. Meski berencana untuk menjadikan ganja sebagai potensi ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh warganya, pemerintah Thailand hingga saat ini masih melarang ganja untuk keperluan rekreasional.

Langkah ini kemudian diikuti oleh Malaysia, yang mengizinkan warganya menanam ganja untuk keperluan medis. Setiap warga Malaysia yang ingin menanam ganja harus mendapatkan izin dari Kementrian Kesehatan Malaysia.

Hingga tulisan ini diturunkan, Indonesia masih melarang peredaran ganja, baik secara medis maupun untuk kebutuhan rekreasi. Meski begitu pemerintah memperbolehkan ganja dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan syarat memperoleh izin dari menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).


Related posts
News FlashThe Hype

Pesaing TikTok Milik SnapChat Spotlight Kantongi 100 Juta Pengguna

News Flash

Tokopedia dikabarkan merger dengan Bridgetown

News Flash

Ibu Hamil dan Anak-anak Dilarang Masuk GBK

News Flash

Ahli Epidemiologi Harvard, Memperkirakan Virus Corona Akan Menginfeksi 70 Persen Manusia

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *