Craft The Future

Bertarung melawan mitos dalam bencana alam

Pandangan bahwa bencana adalah azab yang diturunkan tuhan kepada manusia telah menjadi bagian dari peradaban manusia selama berabad- abad. Meski sains telah menjelaskan fenomena gempa karena adanya pergerakan antar-lempeng tektonik yang membuat daratan bergetar, tapi tetap saja banyak dari kita masih percaya bahwa gempa adalah hukuman atas dosa besar yang telah dilakukan oleh manusia.

Saat gempa dan tsunami melanda Aceh pada tahun 2004 silam, banyak warga Aceh yang percaya bahwa bencana tersebut adalah hukuman karena banyak perempuan Aceh yang gemar berbuat dosa. Meski terdengar seksis, mitos gempa yang berkaitan dengan azab atau murkanya sosok yang dituhankan, tidak hanya terjadi di Indonesia. Di komunitas masyarakat di banyak negara, banyak yang masih percaya bahwa gempa, tsunami dan fenomena alam lainnya diakibatkan oleh murkanya penguasa Bumi dan lautan.

Dari perspektif agama, kisah Nabi Nuh dan banjir bandangnya adalah salah satu cerita azab yang paling populer karena diceritakan di kitab suci tiga agama besar di dunia, yaitu, Islam, Kristen dan Yahudi. Di lingkup budaya, orang Jepang percaya, gempa terjadi karena adanya gerakan dari Namazu, lele raksasa yang mengamuk dan dikurung di bawah tanah.

Di Indonesia, masyarakat Bali percaya bahwa gempa diakibatkan oleh Bedawangnala, kura- kura raksasa yang tinggal di dasar Bumi dan diikat oleh dua ekor naga bernama Anantabhoga yang melambanggkan tanah dan Basuki yang melambangkan air. Jika Bedawangnala bergerak, Anantabhoga akan ikut bergerak dan mengakibatkan gempa. Begitu juga jika gerakan Bedawangnala makin menjadi- jadi, maka Basuki akan ikut bergerak dan mengakibatkan tsunami.

Maka tak aneh jika masyarakat Indonesia dewasa ini masih menghubungkan fenomena alam sebagai sesuatu yang simbolis. Tapi hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, mengaitkan fenomena alam sebagi penanda sesuatu juga terjadi di belahan dunia lain. Kisah Jose Luis Painecur di Chili, misalnya. Atas usul dari tetangganya yang seorang dukun, bocah berumur 6 tahun tersebut dijadikan tumbal. Ia secara sadis dipukuli oleh balok hingga meninggal. Dadanya dirobek, jantungnya diambil, jasadnya dibuang ke laut. 

Juana Namuncura Anen, dukun kaum Mapuche yang memerintahkan penumbalan itu percaya, bahwa Jose Luis Painecur bisa menjadi solusi atas masalah alam yang murka. Sayangnya, nyawa Painecur sia- sia. Esoknya, bencana alam kembali melanda. Kali ini, gempa dengan kekuatan 7,25 SR, mengguncang sisi tenggara Chili. 

Ikhtiar Manusia Membaca Gejala Alam

Segala upaya dilakukan manusia untuk mengenali Bumi yang sedang bekerja memproses dirinya. Hal ini dilakukan agar korban jiwa akibat fenomena alam dapat diminimalisir. Para ilmuwan bekerja keras agar peristiwa seperti gempa, tsunami dan gunung meletus bisa dijelaskan secara ilmiah.

Perubahan pola pikir manusia dalam mempelajari fenomena gempa dimulai dari Lisboa. Gempa yang terjadi pada 1 November 1755 dan menewaskan lebih dari 70 ribu jiwa adalah tonggak awal pemicu seismologi modern dimulai. Gempa Lisboa menjadi titik awal perjalanan manusia mencoba berkenalan dengan gempa sebagai sebuah fenomena alam. Dari sana lahir seismologi, ilmu yang mempelajari gempa.

Pada saat itu, para filsuf dan ilmuwan seperti Voltaire, Immanuele Kant hingga John Michell sedang bersusah payah menerangkan benua Eropa keluar dari kegelapan. Persitiwa gempa di Lisboa dianalisis hingga akhirnya para ilmuwan sepakat bahwa gempa merupakan fenomena pergesar tektonik Bumi dan bukan azab atau kutukan dari tuhan.

Dari sini ilmu pengetahuan, terutama geologi terus berkembang. Hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, manusia akhirnya mampu menyadari bahwa peristiwa gunung meletus, gempa bumi dan tsunami merupakan fenomena alam.

Secara geografis, Indonesia berada di posisi yang kurang beruntung karena terletak di wilayah Cincin Api Dunia (Ring of Fire). Lokasi dari 90 persen gempa di Bumi, terjadi di sini. Maka jangan heran, bencana alam akan terus menjadi bagian yang tak dapat terpisahkan, dan Bumi pun membalasnya dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Oleh karena itu segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang tinggal di wilayah tersebut tidak ada hubungannya dengan peristiwa gempa bumi, tsunami dan gunung meletus.

Sama seperti Indonesia, Jepang secara geografis kurang beruntung karena terletak di wilayah Cincin Api Dunia. Sekitar 1500 gempa menggetarkan Negara Matahari Terbit setiap tahunnya. Tak sedikit gempa- gempa tersebut disusul oleh tsunami dan meluluhlantahkan yang dilewatinya. Alih- alih mengutuk setiap perbuatan masyarakatnya, warga Jepang terus membekali diri dengan mencoba berteman dengan gempa.

Peristiwa gempa yang meluluhlantakan Kobe pada 17 Januari 1995 membuat pemerintah Jepang melakukan evaluasi besar- besaran. Latihan mitigasi dilakukan hampir setiap bulan untuk meminimalisir korban jiwa. Setiap perusahaan konstruksi di Jepang harus memenuhi standar bangunan tahan gempa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Alat pendeteksi gempa terus dipercanggih dan diperbanyakan. Meski tak semua teknologi canggih dan ikhtiar tersebut mampu memprediksi kapan terjadinya gempa, kita seharusnya mau belajar dari Jepang, mau tidak mau, hidup di Indonesia kita harus mencoba akrab dengan gempa dan fenomena alam lainnya.

 

 

 

 

 

Related posts
Craft The Future

Masyarakat Indonesia Tidak Percaya Perubahan Iklim Terjadi Akibat Ulah Manusia

Craft The Future

Orang Indonesia Percaya Perubahan Iklim Bukan Disebabkan Oleh Manusia

Craft The Future

Salah Kaprah Tentang Feminisme

Craft The Future

Atas Nama Agama

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *