The Depth

Bisakah Kita Setia Pada Satu Pasangan?

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa.” — Sudjiwo Tejo.

Cinta dan monogami adalah dua hal yang berbeda. Cinta adalah soal perasaan, sementara monogami adalah soal aturan. Banyak ahli yang menganggap bahwa monogami bukanlah sifat alamiah manusia. Konsep mengenai pernikahan atau perkawinan baru muncul 12 ribuan tahun yang lalu, saat manusia memutuskan untuk berhenti menjadi pemburu dan pengepul. 

Monogami hadir bukan untuk memuaskan unsur alamiah manusia, tapi justru sebaliknya, monogami merupakan hasil konstruksi sosial atau budaya untuk meredam nafsu alamiah manusia agar tercipta suatu keteraturan dalam sebuah peradaban.

Banyak ahli antropologi berpendapat jika monogami atas alasan cinta bahkan baru benar- benar ada pada tahun 1700-an. Sebelumnya, manusia telah hidup untuk seks tanpa mengikrarkan janji suci selama lebih dari 250 ribu tahun. Pernikahan Kleopatra dan Antonius ada bukan karena cinta, tapi karena alasan yang lain, menyatukan kekuatan dua kerajaan digdaya pada zamannya. Maka tak heran jika manusia, tak pandai dalam bersetia. Secara biologis, pria memang jauh lebih cenderung mencari pasangan seksual lebih dari satu. Hal ini dikarenakan produksi sperma pria terjadi hampir setiap waktu. Meski begitu, hal ini bisa diperdebatkan.

Dulu, saat tatanan sosial manusia belum sekompleks seperti saat ini. Berhubungan seks dengan lebih dari satu orang bukanlah hal yang tabu. Seorang pria dapat memiliki ikatan akrab dengan banyak wanita tanpa ada yang menuduhnya seorang womanizer atau penjahat kelamin dan tukang tanam benih. Di sisi lain, seorang wanita dapat tidur dan berhubungan seksual dengan banyak pria dan tak akan ada ibu- ibu atau sekelompok masyarakat yang menjulukinya seorang pelacur atau pelakor.

Jika hal seperti itu adalah hal yang biasa dan telah ada dari zaman dulu, lalu mengapa fenomena selingkuh adalah hal yang tabu?

Definisi selingkuh hadir dari gagasan- gagasan ideal soal relasi romantis. Menurut Alain de Botton, penulis buku The Course of Love, gagasal ideal akan hal- hal romantis itu muncul di era Romantisisme sekitar abad 18. Pada saat itu karya- karya yang muncul banyak mengedepankan kisah-kisah yang menggugah hati.

Sejak konsep pernikahan ditemukan oleh peradaban manusia, konsep perselingkuhan juga ikut hadir membuntuti, oleh karena itu, perkara kesetiaan dan kejujuran merupakan bahan dasar dalam setiap pernikahan. Meski begitu, setiap pasangan mempunyai batas toleransi mengenai hal apa saja yang termasuk ke dalam perilaku selingkuh.

Menurut David M. Buss, profesor psikologi di University of Texas, Austin, laki- laki akan merasa cemburu jika pasangannya melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Sebaliknya perempuan akan cemburu jika pasangannya selingkuh secara emosional.

Lalu, mengapa batasan selingkuh bagi laki- laki dan perempuan bisa berbeda?

Hal ini dikarenakan laki- laki butuh kepastian pasangannya tidak melakukan hubungan seksual dengan orang lain karena mereka tidak ingin membesarkan anak yang bukan darah daging mereka. Di sisi lain, perempuan butuh sosok laki- laki yang membuat mereka nyaman baik secara ekonomi maupun perlindungan.

Kesetiaan Dalam Pernikahan

Dalam sebagian besar kebudayaan dan agama, pernikahan adalah sebuah perjanjian suci yang melibatkan dua orang manusia untuk berikrar saling mencintai sepanjang hidupnya. Namun, dalam beberapa kebudayaan dan agama, definisi pernikahan mempunyai pengertian yang berbeda, tergantung dari konstruksi sosial dan budaya yang tercipta di suatu kelompok masyarakat. Oleh karena itu, pengertian dari pernikahan atau perkawinan itu sendiri mempunyai banyak definisi yang melintasi struktur sosial, budaya serta agama.

Di Islam misalnya, agama dengan jumlah penganut ke dua terbesar di dunia ini mewajibkan pasangan yang ingin melakukan hubungan seks untuk mengucapkan janji suci di depan penghulu terlebih dahulu dengan syarat- syarat tertentu yang memudahkan sekaligus menyulitkan. Islam juga memperbolehkan seorang pria untuk menikahi lebih dari satu wanita, dengan syarat- syarat tertentu yang harus dipenuhi sebelum seorang pria memperistri 4 wanita.

Dalam masyarakat yang cenderung sekular atau liberal. Konsep poligami dalam Islam tentu tidak bisa dengan mudah diterima begitu saja. Perselingkuhan atau mencintai wanita lebih dari satu orang digambarkan sebagai sebuah tindakan yang amoral, bentuk pengkhianatan terhadap sebuah janji yang telah diikrarkan. Maka tak aneh jika dalam masyarakat yang cenderung sekuler dan liberal, secara langsung telah membentuk persepsi bahwa kegagalan sebuah pernikahan adalah aib yang harus ditutupi.

Meski poligami bukanlah hal yang tabu dalam konstruksi hukum Islam, namun poliandri atau poliamori tidak dapat dibenarkan. Tapi di kebudayaan lain, poliandri adalah hal biasa.

Di Tibet misalnya, poliandri dapat ditemukan secara jamak layaknya konsep poligami dalam Islam. Seorang perempuan yang mengawini lebih dari satu laki- laki dapat ditemukan dengan mudah. Struktur sosial di wilayah yang terlentang di ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut ini menganggap poliandri adalah hal yang lazim. Uniknya, para perempuan di daerah Humla, Dolpa, dan Kosi, Nepal ini menikahi laki- laki plus dengan saudara suami mereka. Selain Tibet, struktur sosial yang melegalkan poliandri juga terdapat di Nigeria, Kenya dan Tanzania.

Jika poligami dan atau poliandri adalah hal yang lumrah di suatu tradisi, lalu di mana batas pengkhianatan itu dimulai?

Related posts
The Depth

Penyebaran COVID-19 di Dunia

The Depth

Apa Itu Feminisme? Perlukah Feminisme di Indonesia?

The Depth

Bagaimana Golput Bermula

The Depth

Karena Hidup Butuh Jeda

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *