The Depth

Jodoh ku di tangan Algoritma

Mencari pasangan hidup tentu bukan perkara mudah. Selain harus menimbang beban, bebet dan bobot si calon pasangan, ada faktor- faktor lain yang menjadi perhitungan setiap orang dalam memutuskan calon pendamping hidup mereka.

Dulu sebelum aplikasi kencan bertebaran di pelbagai pasar aplikasi ponsel pintar, biro jodoh di koran adalah salah satu cara bagaimana seseorang mencari pasangan. Hampir semua koran di Indonesia mempunyai rubrik dan kolom biro jodoh. Kompas contohnya, Harian Kompas mempunyai rubrik biro jodoh sejak tahun 1978. Setelah selama 36 tahun, rubrik ini akhirnya ditutup pada tahun 2014 lalu.

Baca juga: Dari Tinder ke Pelaminan

Meski media cetak telah memasuki masa senjakala, tapi tidak bagi biro jodoh. Tinder yang masuk ke pasar ini sejak tahun 2012, berhasil mendisrupsi bisnis ini besar- besaran.

Berubahnya cara berinteraksi orang di era digital saat ini, membuat aplikasi kencan seperti Tinder lebih diminati dibanding harus memasang iklan di biro jodoh konvensional seperti radio atau koran. Hanya dengan sentuhan jari dan bantuan algoritma yang terpasang di aplikasi, Tinder membantu kamu yang menemukan teman mengobrol atau pasangan hidup dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Semenjak dirilis ke publik, Tinder hingga 1 Januari 2019 telah diunduh lebih dari 100 juta orang dan mempunyai pengguna harian sebanyak 53 juta pengguna di seluruh dunia.

Meski berjudul aplikasi kencan atau biro jodoh online tidak semua pengguna Tinder mempunyai motivasi yang sama saat menggunakan aplikasi ini. Hasil survei JakPat melaporkan bahwa 31 persen pengguna Tinder mempunyai motivasi untuk mencari pasangan potensial di aplikasi yang dirilis pad atahun 2012 tersebut.

Sisanya beragam, ada yang menggunakan Tinder untuk memperluan networking, membunuh kebosanan, mencari teman, partner bisnis hingga yang penasaran dengan Tinder.

Mereka yang match, memutuskan untuk saling menukar info dan kontak pribadi seperti Line, WhatsApp dan BBM jika dianggap mempunyai potensi untuk masuk ke tahap yang lebih serius.

Kepopuleran aplikasi kencan juga bisa dilihat dari data yang ditunjukan oleh The America National Academy of Sciences. Dari tahun 2005 hingga tahun 2016, di Amerika Serikat, sepertiga dari orang yang menikah bertemu secara online.

Kepopuleran layanan ini juga sebanding dengan raihan pundi- pundi merka. Dari hasil laporan Statista, di Amerika Serikat, aplikasi penyedia layanan matchmaking seperti Tinder mampu menghasilkan pendapatan senilai $734 juta di tahun 2016. Angka ini diprediksi akan terus meningkat menjadi $890 juta di tahun 2021.



Related posts
The Depth

Penyebaran COVID-19 di Dunia

The Depth

Bisakah Kita Setia Pada Satu Pasangan?

The Depth

Apa Itu Feminisme? Perlukah Feminisme di Indonesia?

The Depth

Bagaimana Golput Bermula

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *