The Depth

Karena Hidup Butuh Jeda

Kita bisa mencoba untuk merayap dan menikmati masa, tapi waktu mengajak kita bergegas untuk segera pergi. Kita bisa memilih untuk duduk berdiam atau bergerak secara perlahan. Tapi waktu tanpa kenal diam, ia terus bergerak mengajak kita bertemu dengan masa depan.

Di zaman yang serba bergegas ini, di mana rasa ketakutan akan ketertinggalan (Fear of Missing Out) jadi bagian hampir semua orang, berhenti sejenak untuk mengambil jeda adalah sebuah kemewahan.

Mengambil jeda bukan untuk benar- benar berhenti, tapi sekadar istirahat menghimpun tenaga agar kuat melawan rimba yang menghadang. Setiap manusia butuh jeda, berhenti sejenak dari keriuhan dan cepatnya dunia. Saat banyak dari kita tanpa henti terus berlomba mencapai destinasi yang kita tuju.

Saya lupa, kapan pertama kali mendengar lagu ‘Rehat’ milik Kunto Aji. Yang saya ingat, saat itu rasa lelah baik mental dan fisik sedang mampir di kehidupan.

Banyak orang memutar lagu itu di Spotify dan memposting-nya di Instagram Story. Dengan rasa penasaran plus rasa lelah baik fisik dan mental, judul dengan kata ‘Rehat’ seakan memberi isyarat untuk telinga bahwa lagu itu harus saya dengar.

Hanya butuh satu kali dengar, lagu Rehat begitu terasa relate dengan saya. Awal Februari lalu, saat video musiknya pertama kali dirilis, setiap potongan gambarnya sukses membuat mata saya berair. Meski cuma kilasan- kilasan sederhana yang terjadi di setiap potongan hidup kita, justru karena itu video dan musik Rehat-nya Kunto Aji ini bisa mendapatkan ruang bagi mereka yang terus berjuang. Mengajak pendengarnya untuk mengambil jeda, merayakan setiap pencapaiannya dan mengajak kita untuk tenang bahwa hal- hal yang kita takutkan belum tentu terjadi.

Kunto Aji seakan- akan ingin memberi pesan bahwa setelah terus dibombardir tekanan dari segala penjuru, dipacu untuk terus berlari demi mimpi. Ternyata cuma jeda yang bisa membuat motivasi untuk berlari itu kembali.

Orang Italia mengenal konsep “Dolce far Niente“, istilah untuk kenikmatan tidak melakukan apapun alias bermalas- malasan. Orang Italia akan pergi tidur siang di hari kerja atau nongkrong minum kopi di kafe. Bukan untuk sekadar malas- malasan, Dolce far Niente lahir dari kesadaran bahwa mengambil jeda untuk beristirahat adalah hal yang penting.

Karena setiap hidup butuh jeda, bukan untuk berhenti tapi sekadar untuk mereflesikan diri dan melihat ke belakang tentang apa yang telah dilakukan sekaligus menata apa yang harus dilakukan. Dengan segala keriuhan yang terus terjadi di seluruh penjuru Bumi, mengambil jeda adalah sebuah kemewahan. Karena tanpa koma, sebuah paragraf akan kosong tanpa makna. Dengan jeda juga, setiap frasa menjadi bermakna.

 

 

 

Related posts
The Depth

Penyebaran COVID-19 di Dunia

The Depth

Bisakah Kita Setia Pada Satu Pasangan?

The Depth

Apa Itu Feminisme? Perlukah Feminisme di Indonesia?

The Depth

Bagaimana Golput Bermula

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *