Get Life

Sepakbola Seribu Angka

Puluhan tahun lalu, Jack Hixon, seorang pemandu bakat di inggris menemukan bocah berumur 13 tahun bermain bola di sebuah lapangan bermain. Instingnya mengatakan bahwa bocah tersebut bakal menjadi legenda. Ia membawanya ke akademi Southampton. Belasan tahun kemudian bocah tersebut menjelma menjadi Alan Shearer, salah satu penyerang terbaik dalam sejarah sepakbola Inggris.

Pada saat itu sebagai seorang pemandu bakat, Jack Hixon tidak menggunakan komputer untuk meyakinkan pemilik klub merekrut seorang pemain. Tak ada peran analis data macam Opta yang ikut membantunya, yang Ia gunkan hanya intuisi dan pengalamannya dalam bidang scouting yang Ia geluti hingga akhir hayatnya.

Tapi waktu telah berganti. Sepakbola telah sedikit-banyak berubah. Kini baik di dalam dan di luar lapangan, ada deretan angka yang ikut campur dalam setiap pengambilan keputusan. Termasuk dalam perekrutan pemain.

Yah, sejatinya sepakbola memang akrab dengan angka, namun sepakbola bukanlah ilmu pasti seperti matematika atau fisika. Banyak hal yang sebelum pertandingan di atas kertas bisa diprediksi justru berbanding terbalik dengan fakta yang hadir sesudahnya. Namun hal itu bukan berarti sepakbola tak bisa dianalisa oleh data yang diperoleh dari setiap pertandingannya. Dewasa ini, sepakbola modern mencoba lebih bersahabat dengan angka.

Semuannya berawal dari Moneyball. Sebuah buku yang mencoba mengajak dunia olahraga keluar dari era kegelapan. Di dalamnya terdapat kisah epik dari Billy Beane yang berhasil merevolusi metodologi perekrutan dan analisa pemain di dunia bisbol Amerika. Dengan budget yang kecil –ketiga terkecil di MLB— Billy Beane berhasil membawa Oakland Athletic bersaing dengan New York Yankees dan Red Sox Boston. Lewat metode risetnya, Ia mencoba memperkecil jurang antara si kaya dan si miskin. Mengakali kemenangan dengan cara yang elegan.

Penggunaan data dalam sepakbola naik dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya tim sepakbola menggunakan jasa dari perusahaan- perusahaan seperti Opta, Prozone dan Amisco untuk memperoleh data yang mereka inginkan. Tahun 2014 lalu, Liverpool merekrut Ian Graham – Peraih gelar PhD di bidang Fisika Teoritis— untuk menempati posisi baru, Direktur Riset. Arsenal membeli sebuah perusahaan statistik, StatsDNA untuk membantu mereka mengolah data dari setiap pertandingan. Atau mungkin kisah fairytale Midtjylland –klub asal Denmark– yang hampir bangkrut lalu bangkit kembali dan meraih juara liga Denmark untuk pertama kalinya setelah berhasil mengaplikasikan metode Moneyball ke dalam sepakbola mereka lewat peran analis data.

 

Tantangan dari Para Tradisionalis

Tentu saja selalu ada yang kontra terhadap sebuah gagasan baru. Begitu pula dengan penggunaan statistik dalam sepakbola. Bagi para tradisionalis, deret- deret angka tersebut tidak berarti dan tidak dapat menjelaskan apa- apa selain kerumitan. Para tradisionalis beranggapan, bisbol berbeda dengan sepakbola yang lebih fluid dan sulit untuk diukur. Bagi mereka satu- satunya statistik yang penting adalah hasil akhir di papan skor.

Hal tersebut wajar, karena dalam hal ini, konteks adalah segalanya. Para analis itu didatangkan bukan untuk mengoleksi data tapi untuk menganalisa dan mengolah data yang mereka kumpulkan agar dapat diterjemahkan. Dalam hal ini tentu saja, menafsirkan data adalah seni itu sendiri.

Para analis harus bisa membaca dan menerjemahkan data mereka yang kumpulkan. Dari situ, data harus mereka olah agar bisa berguna bagi para tim pelatih dan pemandu bakat. Dalam satu event, para analis dapat mengumpulkan lebih dari dua data. Misalnya apa operan yang Xavi lakukan berhasil atau tidak, ke arah mana operan tersebut diarahkan, dan dengan kaki apa Xavi melakukan operan.

Sekali lagi, karena dalam hal ini konteks adalah segalanya, data itu harus bisa mereka olah dan mereka terjemahkan, karena tanpa keahlian itu, data tersebut tak akan berarti apa- apa.

Misalnya, rataan umpan Lucas adalah 75 persen per pertandingan namun tak ada satupun dari umpan Lucas yang berhasil dikonversi menjadi gol. Hal tersebut berbanding terbalik dengan rataan umpan Coutinho yang hanya 65 persen per pertandingan namun berhasil dikonversi menjadi assist atau key past yang berbuah gol.

Dalam konteks ini ada hal yang perlu dianalisa, kenapa operan yang diberikan oleh Lucas tidak dapat dikonversi menjadi gol. Apa operan tersebut hanya diarahkan ke belakang sehingga tak dapat dikonversi menjadi key pass atau assist yang berbuah gol bagi Liverpool.

Oleh karena itu, selain bertugas mengurasi data yang terkumpul, para analis data juga harus bisa menafsirkan data yang mereka kumpulkan. Sehingga deret- deret angka tersebut bisa digunakan.

Selain itu, hal tersebut juga harus diimbangi oleh kemampuan staff pelatih dan manajer dalam membaca deret angka tersebut,

Penggunaan taktik oleh pelatih pun tidak boleh diabaikan. Karena taktik menentukan gaya bermain tim itu sendiri. Oleh karena itu perlu bagi setiap tim untuk mendatangkan pemain yang sesuai dengan kebutuhan tim.

Misalnya, Inter di bawah Mancini membutuhkan pemain tengah yang mampu mengkreasi serangan dan juga mempunyai kemampuan dengan jelajah yang tinggi. Maka mendatangkan pemain seperti Yaya Toure lebih bermanfaat dibandingkan pemain seperti Riquelme. Walau dari segi kreatifitas dan statistik, kemampuan Riquelme tidak kalah hebatnya dengan Yaya Toure. Jika tidak, deret angka yang mentereng tersebut tidak berarti apa- apa.

Dalam sepakbola modern kekalahan adalah harga yang harus dibayar mahal. Apalagi bagi tim- tim besar seperti Chelsea, Barcelona, Arsenal atau Manchester United. Tidak bermain di Liga Champion adalah petaka finansial. Mengakali kemenangan lewat analisa data adalah salah satu cara bagi mereka untuk beradaptasi. Termasuk bagi tim- tim kecil yang ingin bertahan dalam mengarungi kerasnya kompetisi sepakbola modern.

Penggunaan statistik juga membuat para pemilik klub dapat mengukur kinerja pemain dan pelatih lebih objektif. Meminjam kata- kata Rex Stout seorang novelis Amerika “There are two kinds of statistics, the kind you look up and the kind you make up.” Berguna atau tidaknya deretan angka tersebut, tergantung bagaimana kita menafsirkan data tersebut.

 

Related posts
Get Life

Tips Sebelum Membeli Redmi 9T

Get LifeThe Hype

Perbandingan Realme C11 Dan Redmi 9

Get Life

Xiaomi Rilis Scooter Terbaru Ninebot C30

Get Life

5 Alasan PS5 Lebih Unggul dari Xbox X Series

Mau inbox Email Kamu ada pesan dari Selancar? Daftar disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *